The Ultimate Guide To pemerkosaan
The Ultimate Guide To pemerkosaan
Blog Article
Ada kemungkinan korban bertindak demikian karena disuruh, dipaksa untuk berbuat demikian demi kepentingan yang menyuruh. Dalam pengertian tertentu, pelaku menjadi korban tindakan kejahatan lain.
Ada atau tidak adanya cedera fisik dapat digunakan untuk menentukan apakah pemerkosaan telah terjadi.[eighty two] Mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual namun tidak mengalami trauma fisik biasanya cenderung tidak melapor ke pihak berwenang atau mencari perawatan kesehatan.[eighty three]
Just two several years following the famed Amistad revolt, a mutiny rerouted the slaving brig Creole into British territory, the place human bondage was illegal.
Korban berhak menolak pengumpulan barang bukti. Advokat korban memastikan keinginan korban dihormati oleh staf rumah sakit. Setelah cedera fisik ditangani dan perawatan dimulai, maka pemeriksaan forensik dilanjutkan dengan pengumpulan bukti yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan cedera.
Among the main mandates from the Worldwide policing Firm Interpol may be the avoidance of crimes in opposition to children involving the crossing of Intercontinental borders, including child pornography and all other forms of exploitation and trafficking of children.[seventy three][74]
Encyclopaedia Britannica's editors oversee topic parts wherein they have extensive awareness, whether from yrs of expertise obtained by engaged on that written content or through analyze for a complicated diploma. They create new material and validate and edit articles received from contributors.
Di Yunani dan Roma kuno, terdapat konsep pemerkosaan antara laki-laki - perempuan dan antar lelaki. Hukum Romawi mengizinkan tiga tuduhan berbeda untuk kejahatan tersebut: stuprum, hubungan seksual tanpa izin (yang, pada awalnya, juga termasuk perzinahan); vis, serangan fisik untuk tujuan nafsu; dan iniuria, tuduhan umum yang menunjukkan segala jenis serangan terhadap seseorang. Lex Iulia di atas secara khusus mengkriminalisasi for every vim stuprum, hubungan seksual tanpa izin dengan paksa. Dua yang pertama merupakan tuntutan pidana publik yang dapat diajukan setiap kali korbannya adalah seorang wanita atau anak-anak dari kedua jenis kelamin, tetapi hanya jika korbannya adalah warga negara Romawi yang lahir bebas (ingenuus) berpotensi dihukum mati atau diasingkan.
The first form attempts to resolve the obstacle by highlighting the ethical distinctions concerning virtual acts of child sexual abuse and murder, Therefore concluding that virtual acts of child molestation will often be immoral, while simulated acts of murder typically usually are not.[70]
The photographs were created by children or teenagers photographing or filming each other or as selfies, devoid of adults existing or coercing, by unwittingly imitating adult pornographic or nude photographs or films (which include of celebrities) they experienced found on the net. The report reported that sex offenders trawled for and amassed these photos.[24][25]
Dalam perang, pemerkosaan sering digunakan untuk mempermalukan musuh dan menurunkan semangat juang mereka. Pemerkosaan dalam perang biasanya violence dilakukan secara sistematis, dan pemimpin militer biasanya menyuruh tentaranya untuk memperkosa orang sipil.
Sementara itu, kekerasan seksual pada laki-laki cenderung membuat korban tidak mencari pertolongan karena merasa malu. Hal ini karena anggapan masyarakat bahwa laki-laki adalah sosok yang tangguh dan kuat, sehingga seharusnya ia bisa melindungi diri sendiri dari tindak kekerasan.
Historians and authorities study the American system of racialized slavery and also the hypocrisy it relied on to function.
Judith Butler said in 1990 that, in mild of the new twentieth century legislation with regards to child pornography, the quite act of speaking of child pornography has intensified its erotic impact, leading to an "eroticization of prohibition".
Organisasi kesehatan dan banyak lembaga juga telah memperluas pemerkosaan melampaui definisi tradisional. Planet Overall health Firm (WHO) mendefinisikan pemerkosaan sebagai bentuk kekerasan seksual,[23] Organisasi Kesehatan Dunia mengartikan pemerkosaan sebagai "penetrasi vagina atau anus dengan menggunakan penis, anggota-anggota tubuh lain atau suatu benda -- bahkan jika dangkal -- dengan cara pemaksaan baik fisik atau non-fisik." sedangkan Centers for Illness Control and Avoidance (CDC) memasukkan pemerkosaan dalam definisi serangan seksual mereka; mereka menyebut pemerkosaan merupakan suatu bentuk kekerasan seksual. CDC mencantumkan tindakan lain selain dari aktivitas seksual yang memaksa dan non-konsensual yang merupakan pemerkosaan maupun yang tidak merupakan pemerkosaan, beberapa diantaranya yang termasuk pemerkosaan adalah penyerangan seksual yang difasilitasi oleh obat, tindakan di mana seorang korban dibuat untuk mempenetrasi pelaku kejahatan atau orang lain, kejadian keracunan di mana korban tidak dapat melakukannya persetujuan (karena ketidakmampuan atau tidak sadar), penetrasi paksa secara fisik yang terjadi setelah seseorang ditekan secara verbal (dengan intimidasi atau penyalahgunaan wewenang untuk memaksa untuk menyetujui), menuntaskan atau mencoba penetrasi paksa korban melalui kekuatan fisik yang tidak diinginkan (termasuk menggunakan senjata atau mengancam untuk menggunakan senjata).